Jumat, 21 Januari 2011

orang gila itu..


“Ada orang gila datang…,” terdengar teriakan teman-teman Dini dari depan sekolah mereka. Saat itu jam istirahat. Murid-murid SDN Suka Karya sedang bermain dihalaman Sekolah mereka.

Sesaat suasana menjadi gaduh . Murid-murid itu berhamburan lari menyelamatkan diri. Ada yang masuk kelas dan sebagian lagi lari keluar, melalui gerbang belakang sekolah.

Dini yang sedang menikmati makanan kecilnya, menjadi sangat ketakutan mendengar teriakan itu. Dini berlari keluar gerbang belakang sekolah mengikuti beberapa temannya yang lain.

Tak terasa sudah sangat jauh Dini berlari dari sekolahnya. Dini benar-benar takut jika orang gila itu menangkapnya. Menurut cerita yang pernah Dini dengar, orang gila itu suka menangkap anak sekolah seperti Dini. Hiii pasti akan diculik atau dijual pikir Dini. Dini terus berlari sekuat tenaganya.

Masih jelas dalam ingatan Dini. Beberapa waktu yang lalu, Dini dan teman-temannya bertemu dengan orang gila itu. Mereka di kejar, untung Dini dan teman-temannya segera lari menyelamatkan diri.

Tiba-tiba… bukkk. “Aduh,” jerit Dini. Murid kelas empat SD itu terjatuh. Kaki Dini tersandung batu besar , yang tadi tidak begitu diperhatikan Dini waktu lari. Tubuh Dini berguling-guling diatas tanah yang berbatu, Dini tidak bisa menahan badannya yang terus saja berguling, karena jalanan yang menurun. Sampai semuanya menjadi gelap. Dini pingsan.

“Nak,… bangun Nak”, suara seorang Bapak sambil menepuk-nepuk pipi Dini. Bapak itu lalu menggoyang-goyangkan badan Dini.

“Hhhh, dimana aku,” Dini mulai membuka matanya.

Samar-samar Dini melihat seraut wajah yang pernah dikenalnya.

Hah, ini kan orang gila yang tadi datang kesekolah bisik hati Dini.

“Ya Allah bantulah saya lari dari orang ini,” do’a Dini dalam hati.

Dini berusaha berdiri. Tapi usaha Dini gagal, Dini merasakan badannya masih lemah.

“Istirahatlah dulu Nak, badanmu masih lemah, tadi kamu pingsan dijalan, kebetulan Bapak lewat jalan itu. Karena itu kamu Bapak bawa kesini, kerumah Bapak,” ujar bapak yang menolong Dini.

“Tttapi jangan tangkap saya pak,” Dini ketakutan.

“Menangkap kamu,? Maksudmu apa Nak?,” ujar si Bapak bingung.

“Bapak yang suka berdiri didepan sekolah saya ‘kan,?” tanya Dini memberanikan diri.

“Kata teman-teman saya, Bapak suka menangkap anak kecil, lalu Bapak culik dan di jual, saya tidak mau di jual.”

“Oooh Bapak tahu sekarang, kalian semua menganggap Bapak penculik, ya,” Si Bapak pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Baiklah, sekarang Bapak beritahu kamu bahwa nama Bapak adalah Eko, Bapak memang sering memperhatikan kalian didepan sekolah, tapi bukan berarti Bapak akan menculik kalian,” jelas Pak Eko panjang lebar.

“Tapi kenapa baju Bapak tidak bersih dan rambut Bapak juga tidak tersisir dengan rapi,” tukas Dini.

“Ooo ternyata itu yang membuat kalian tidak mau Bapak dekati,”

“Pantas saja setiap kali Bapak panggil, kalian langsung lari. Sebenarnya bukan karena Bapak malas, tapi karena Bapak terlalu asyik dengan pekerjaan Bapak, sampai-sampai Bapak lupa untuk memperhatikankan penampilan Bapak.”

Pak Eko berdiri dan mengambil sebuah komik yang terletak diatas meja. Kemudian pak Eko memberikan komik itu kepada Dini, sembari menjelaskan kenapa dia sampai memperhatikan anak-anak disekolah Dini. Dengan ragu, Dini menerima komik yang disodorkan pak Eko.

Dini mulai membuka buku itu dan membacanya. Dihalaman pertama buku itu tertulis nama pengarangnya Eko Santoso.

“Ooo Bapak seorang komikus, ya” ujar Dini manggut-manggut.

”Ya begitulah, yang kamu baca itu adalah hasil dari pekerjaan Bapak yang sudah diterbitkan. Insyaallah Bapak segera menyelesaikan komik baru tentang kalian. Oh iya siapa namamu Nak?.”

“Nama saya Dini, Pak. Sebenarnya teman-teman saya bukan mengira Bapak sebagai penculik”, Dini menghentikan ucapannya. Dia tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya tentang anggapan teman-temannya kepada bapak Eko.

“Lalu kalian mengira Bapak sebagai apa, bukankah tadi Dini sendiri yang mengatakan kalau Bapak akan menculik dan menjual Dini?”, mata pak Eko penuh tanda tanya.

“Mmm itu hanya perkiraan saya saja Pak, tapi kalau menurut persangkaan teman-teman saya, Bapak seperti…

“Seperti apa?”, kejar pak Eko sambil tersenyum, pak Eko sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Dini.

“Seperti… orang gila, ha..ha..ha”, mereka berduapun tertawa.

Hilang sudah semua pegal dan rasa sakit yang dirasakan Dini sewaktu jatuh tadi. Ternyata pak Eko orangnya sangat baik dan pandai bercerita. Tak terasa sudah beberapa jam berlalu.

“Pasti sekolahmu sudah bubar. Sekarang kamu Bapak antar pulang ya, buku ini Bapak berikan untuk Dini, tapi dengan satu syarat, Dini harus rajin belajar dan memperkenalkan Bapak dengan teman-teman Dini, bagaimana?”.

“Oke, terima kasih ya Pak, tapi saya masih boleh main kesini kan?”

“Boleh, ajak juga teman-temanmu yang lain, Ayo kita kerumahmu”.

Dini pulang kerumah dengan senyum dibibirnya. “Besok akan kuceritakan pengalaman seru ini kepada teman-temanku, pasti mereka tidak akan percaya,” bisik hati Dini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung ya sahabat... ^_^