Sabtu, 17 September 2011

Aku dan Syifa

Syifa saat ini sudah duduk di kelas 8 alias kelas 2 SMP, putriku ini sangat manis, penurut dan banyak sekali cerita yang dibawanya pulang dari sekolah. Tanpa ku minta ia akan bercerita apa saja yang telah ia lakukan hari itu. Namun beberapa hari belakangan ini, putriku berubah sedikit tertutup. Ketika kutanyakan penyebabnya, Jawaban putriku membuatku terkejut.
“Aku ingin punya pacar seperti teman-temanku Bu,” demikian katanya.
Putri kecilku sekarang bukanlah seorang anak kecil lagi.
“Hmm gitu ya, pacaran itu maksudnya apa ya Kak, Ibu kurang ngerti,” tanyaku.
“Pacaran itu, kita bisa sering ketemuan sama cowoknya Bu.., trus kita bisa sering curhat, kalau ada teman yang nanya kan aku bisa jawab kalau aku sudah punya pacar,” jawabnya lugu.
Ternyata apa yang di uraikannya tidak sejauh apa yang aku bayangkan. Aku hanya memberikan pandangan kepada putri ABG ku bahwa yang di maksudnya dengan pacaran itu mungkin berteman akrab, kalau berteman, boleh dengan siapa saja, tidak harus dengan satu orang, dan kalau curhat, lebih baik kepada ibu atau bapak dari pada ke orang lain. Putri ku waktu itu mengangguk. Beberapa hari setelah itu ia sudah bercerita berbagai macam hal lagi denganku. Salah satu ceritanya itu, membuat ia berpikir ulang untuk punya pacar. Suatu kali Syifa membaca wall FB temannya yang baru seminggu pacaran, temannya itu kesal karena tidak bisa melupakan cowoknya yang punya pacar lagi selain dia. Dan temannya itu berubah jadi anak yang nakal dengan suka merokok dan sederet kebiasaan negatif lainnya. Aku tersenyum sambil berkata,” Alhamdulillah, anak Ibu hebat ya.. udah ngerti yang baik dan yang gak baik, Ibu bangga padamu.” Aku memeluknya, seraya bersyukur dalam hati, Allah mengajarkan langsung pada anakku.
Tip berikut semoga membantu kita yang ingin lebih baik untuk anak-anak kita.
1. Mulailah menganggap anak remaja sebagai teman dan akuilah ia sebagai orang yang akan berangkat dewasa. Seringkali orangtua tetap memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, meskipun mereka sudah berusaha menunjukkan bahwa keberadaan mereka sebagai calon orang dewasa.
2. Hargai perbedaan pendapat dan ajaklah berdiskusi secara terbuka. Nasihat yang berbentuk teguran atau yang berkesan menggurui akan tidak seefektif forum diskusi terbuka. Tidak ada yang lebih dihargai oleh para remaja selain sosok orangtua bijak yang bisa dijadikan teman.
3. Tetaplah tegas pada nilai yang anda anut walaupun anak remaja anda mungkin memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Biarkan nilai anda menjadi jangkar yang kokoh di mana anak remaja anda bisa berpegang kembali setelah mereka lelah membedakan dan mempertanyakan alternatif nilai yang lain. Larangan yang kaku mungkin malah akan menyebabkan sikap pemberontakan dalam diri anak anda.
4. Jangan malu atau takut berbagi masa remaja anda sendiri. Biarkan mereka mendengar dan belajar apa yang mendasari perkembangan diri anda dari pengalaman anda. Pada dasarnya, tidak ada anak remaja yang ingin kehilangan orangtuanya
5. Mengertilah bahwa masa remaja untuk anak anda adalah masa yang sulit. Perubahan mood sering terjadi dalam durasi waktu yang pendek, jadi anda tidak perlu panik jika anak remaja anda yang biasanya riang tiba-tiba bisa murung dan menangis lalu tak lama kemudian kembali riang tanpa sebab yang jelas.
6. Jangan terkejut jika anak anda bereksperimen dengan banyak hal, misalnya mencat rambutnya menjadi biru atau ungu, memakai pakaian serba sobek, atau tiba-tiba ber bungee-jumping ria. Selama hal-hal itu tidak membahayakan, mereka layak mencoba masuk ke dalam dunia yang berbeda dengan dunia mereka saat ini. Berikanlah ruang pada mereka untuk mencoba berbagai peran yang cocok bagi masa depan mereka.
7. Kenali teman-teman anak remaja anda. Bertemanlah dengan mereka jika itu memungkinkan. Namun waspadalah jika anak anda sangat tertutup dengan dunia remajanya. Mungkin ia tidak/ kurang mempercayai anda atau ada yang disembunyikannya.
Sumber: http://www.ilmupsikologi.com/?p=12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung ya sahabat... ^_^