Tampilkan postingan dengan label cerpen anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

Ulang Tahun paling Berkesan



     
               Emma bersedih. Dia termenung di kamarnya. Pesta ulang tahunnya akan diadakan malam ini. Papa sedang bertugas di Medan, sementara mama masih di kantornya. Padahal mereka telah berjanji akan berusaha hadir di acara ulang tahun Emma. Beberapa hari yang lalu Emma juga sudah mengajak teman-temannya datang ke rumah. Menghadiri pesta ulang tahunnya.
            “Kenapa sih Mama dan Papa belum pulang?” gumamnya lirih. Ia memandangi baju pesta yang sudah dikenakannya. Meskipun semua persiapan pesta ulang tahunnya sudah siap. Tapi tanpa kehadiran kedua orang tuanya, bukanlah pesta ulang tahun yang diharapkannya.
            “Sudahlah Emma, tante juga bisa kan mendampingi Emma meniup lilin nanti,” Tante Weni menenangkan Emma. Beliau adalah adik papa. Papa dan mama menitipkan persiapan ulang tahun Emma kepada Tante Weni.
           “Iya sih Tante, tapi aku maunya papa dan mama hadir di acara ulang tahunku,” Emma menahan tangisnya. Ia menyesal kenapa tidak mengikuti saran mama. Mama menyarankan pesta ulangtahunnya hari minggu saja. Walau lewat 3 hari dari tanggal lahirnya. Tapi Emma memaksa ingin mengadakan pesta itu hari Kamis ini. Pas di tanggal lahirnya. Hasilnya terpaksa seperti ini, mama dan papa tidak bisa cuti, karena jadwal kerja mereka sangat padat.
         “Keluar yuk, teman-temanmu sudah datang,” Tante Weni memegang lengan Emma. Emma masih diam dan tidak mau beranjak dari kursi di kamarnya.
         “Emma.., teman-teman sudah ngumpul nih,” teriak Sita sahabatnya dari luar kamar. Sita melongok di pintu kamar Emma. Ia masuk dan menghampiri Emma.
         “Kamu kenapa, kok kelihatannya sedih?” tanya Sita khawatir.
          “Ah, enggak kok. Ya udah, ayo kita mulai acaranya,” Emma berusaha tersenyum. Ia berjalan keluar kamar diiringi Sita. Di ruang keluarga sudah hadir semua teman-temannya. Mereka terlihat senang dan gembira. Harusnya aku tidak boleh bersedih, batin Emma. Kalau ia bersedih di pestanya, bagaimana dengan teman-temannya? Emma menarik napas panjang, lalu dihembuskannya kencang. Setelah itu ia tersenyum dan bergabung bersam teman-temannya.
         “Terima kasih sudah datang di acara ulang tahunku,” ujar Emma ketika acara pestanya dimulai. Tepuk tanganpun riuh terdengar. Acara pesta dimulai. Pertama acara tiup lilin dan potong kue diiring lagu selamat ulang tahun. Dilanjutkan dengan games yang sudah dipersiapkan Tante Weni untuk Emma dan teman-temannya.
      Semua anak terlihat menikmati games itu. Suara musik yang mengiringi games membuat mereka berteriak kegirangan.
           “Sekarang gamesnya untuk lima orang. Kelima peserta berjalan sambil menari mengitari 4 kursi ini, diiringi musik. Jika musik berhenti, kalian harus segera duduk. Yang tidak mendapatkan tempat duduk berarti kalah dan harus keluar dari permainan. Tante akan mengambil satu kursi setelah itu. Demikian seterusnya hingga tersisa satu kursi. Yang berhasil duduk di kursi, itulah pemenangnya dan akan tante kasih hadiah.” Jelas Tante Weni.
      “Aku..,aku Tante.., aku...,” terdengar teriakan teman-teman Emma berebutan ingin mengikuti games itu. Tante Weni dan Emma, memilih lima orang. Setelah itu gamespun dimulai. Musik dinyalakan, dan merekapun berjalan sambil menari mengitari 4 kursi yang sudah disiapkan. Sementara teman-teman yang lain mengikutinya sambil meneriakkan jogoan mereka masing-masing. Tiba-tiba musik berhenti. Mereka berebutan duduk. Teriakan teman-teman Emma semakin bergemuruh.
           “Yah.. Gina tidak dapat kursi, berarti kamu kalah,” seru Emma. Lalu gamespun berlanjut. Suara teman-teman Emma semakin riuh meneriaki jagoan mereka masing-masing. Ketika kursi terakhir tinggal, hanya ada dua peserta yang tersisa. Mereka kembali berjakan sambil menari mengitari kursi. Hingga mereka memperoleh satu pemenang. Tante weni mwmbwrikan hadiah untuk Katya yang berhasil menang.
           Zap! Tiba-tiba listrik di rumah Emma padam. Semua anak berteriak ketakutan.
          “Tenang-anak-anak!” terdengar suara Tante Weni di tengah suara ketakutan mereka. “Sebentar tante ambil lampu emergensi dulu,” tambah Tante Weni.
        “Yah.. gimana nih..” Emma hampir menangis. Kesedihannya tadi sudah berkurang, tapi kenapa harus mati lampu ketika ia sedang merayakan hari ulangtahunnya.
        “Kriing...,” “whuaa...!” suara telepon rumah mengagetkan Emma dan teman-temannya. Perlahan Emma berjalan menuju meja telepon.
          “Halo! Bisa bicara dengan Emma?” terdengar suara seorang anak dari ujung telepon.
         “Iya, saya sendiri, ini siapa?” Emma bingung, siapa yang menelponnya. Semua temannya hadir di sini. Apalagi Emma tidak begitu mengenal suara di telepon itu.
          “Aku Lusi, hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu,” ujar suara anak perempuan itu. Seolah ia sudah mengenal Emma cukup lama.
          “Oh terima kasih, sudah ya, listrik di rumahku lagi mati nih,” Emma meletakkan gagang telponnya.
          “Tunggu Emma, bisakah kamu melihat keluar rumah sebentar?”
         “Maksud kamu apa?” Emma mulai kesal.
        “Aku ingin kamu keluar rumahmu sebentar saja. Aku menunggumu di luar rumah.”
        “Hhh..., Baiklah,” Emma mendengus kesal. Ia segera mengembalikan gagang teleponnya. Sementara itu Tante Weni sudah menyalakan lampu emergensi. Teman-teman Emma juga sudah tidak berisik seperti tadi lagi.
          “Baiklah anak-anak, kita lanjutkanb acara kita ya,” Tante Weni kembali berdiri di tengah teman-teman Emma.
           “Sebentar Tante, ada yang menelponku tadi, dia memintaku keluar rumah.” Emma berjalan menuju pintu. Tante Weni mengikuti Emma dari belakang. Teman-teman Emma penasaran ingin tahu apa yang sedang terjadi. Merekapun berbondong  mengikuti Emma.
          HAPPY BIRTHDAY EMMA, WE LOVE U terlihat tulisan seperti itu di halaman rumah. Tulisan yang disusun dengan lilin yang menyala. Indah sekali, Emma hampir tidak percaya dengan yang baru saja di lihatnya. Ada mama dan papa tersenyum sambil membentangkan tangan mereka. Seorang anak perempuan sebayanya berdiri di samping mama.
        “Mama , Papa!” Emma berlari dan menghambur ke dalam pelukan orang tuanya.
        “Selamat ulang tahun  sayang. Maaf Mama dan Papa telat ya. Ini Lusi, Mama minta tolong dia menelponmu tadi. Lusi tetangga baru kita,” mama menunjuk rumah sebelah.
       “Hai, selamat ulang tahun  ya, tadi kebetulan aku duduk di teras, aku lihat Papa dan Mamamu sibuk mamasang dan menyalakan lilin. Aku mengajukan diri membantu mereka.” Lusi tersenyum senang.
        “Oh, terima kasih ya,” Emma memeluk Lusi.
        “Wow! Keren!” suara teman-teman Emma takjub melihat deretan lilin yang menyala itu.
       Tak lama kemudian lampupun menyala kembali. “Jadi tadi yang  tadi mematikan lampu itu Mama dan Papa ya,” tebak Emma. Karena ia melihat lampu rumah Lusi dan tetangga lainnya masih menyala. Mama dan papa mengagguk sambil tersenyum. “Ma kasih ya Ma, Pa,” Emma berjanji tidak akan berburuk sangka lagi terhadap mama dan papanya.
     Alhamdulillah, ternyata hari ini adalah hari ulang tahun yang sangat mengesankan.


Sabtu, 17 September 2011

Perasaan Birdy


                                                     
                                                 
       Birdy burung sedang  bingung dan murung, pandangannya tak lepas melihat dedaunan yang berjatuhan ke tanah. Sudah beberapa hari ini, daun-daun di pohon tempat tinggalnya gugur satu persatu, pertama daun-daun itu menguning, beberapa hari kemudian daun yang sudah kuning, menjadi coklat, kemudian daun coklat itu terlepas dan berguguran dari pohon.
       Kalau hanya satu daun yang gugur, mungkin Birdy tidak sesedih ini. Tapi, semua daun-daun pohon itu satu per satu menguning, dan berguguran.
       Dalam hatinya Birdy bertanya, kenapa daun-daun itu berguguran, padahal di dalam rimbunan daun inilah ia sering bermain, belajar terbang, melompat dan bernyanyi. Jika terus-menerus seperti ini, pastilah daun-daun itu akan habis, gumam Birdy. Dan dia tidak akan punya tempat lagi untuk bermain.
        “Bu.., kenapa daun-daun ini berguguran? Kalau semua daun ini habis, kita akan tinggal di mana?” tanya Birdy pagi itu setelah selesai belajar terbang bersama ibunya. Birdy tidak tahan lagi menyembunyikan kesedihannya.
          “Hmmm.. ternyata anak Ibu murung karena itu ya.., ”  sahut Ibu Birdy sambil tersenyum. Beberapa hari ini, Ibu memperhatikan Birdy. Ibu tahu Birdy sedang memikirkan sesuatu, tapi Ibu menunggu Birdy sendiri yang bercerita kepadanya. Karena biasanya Birdy bercerita banyak hal kepada ibunya.
          “Iya Bu.. aku gak mau kehilangan semua daun-daun ini, aku takut gak bisa main petak umpet lagi bersama teman-temanku.”
          “Sayang.., Birdy tidak usah takut, daun-daun ini gugur, karena memang sudah saatnya. Kan sekarang musim gugur, semua  daun yang ada di setiap pohon pasti akan gugur. Jika musim semi tiba, semua pohon akan mengeluarkan daun baru.  Jadi Birdy tidak akan kehilangan tempat bermain, dan kita tidak akan kehilangan tempat tinggal,” jelas Ibu.
      “Oo.. gitu ya Bu, tapi kasihan daun yang sudah gugur itu ya Bu, mereka jadi tidak ada gunanya lagi.”
       “Daun yang sudah gugur, masih berguna sayang.., mereka berguna untuk kesuburan tanah di sekitar pohon ini. Mereka akan hancur dan akan menjadi pupuk untuk pohon ini, sehingga pohon ini bisa menghasilkan buah dan daun yang lebih banyak lagi.”
        “Hore.. kalau gitu, makanan untuk kita bertambah banyak ya Bu,” kicau Birdy sambil melompat gembira.
         Ibu Birdy ikut tersenyum melihat tingkah anaknya.

Minggu, 27 Februari 2011

Suara Itu ( Flash Fiction anak )

Tengah malam, Syifa terbangun dari tidurnya, karena ingin BAK.

"Krrttt... krrrtt...krrrtt..!" Syifa kaget.

Suara itu terdengar sangat jelas.

"Bu.., bangun..," Syifa mengetok kamar Ibu.

"Ada apa sayang?"

Syifa memeluk Ibu,"suara apa itu Bu, aku takut."

Suara itu terdengar lagi.

"Sepertinya dari atas,"gumam Ibu.

Ibu naik kelantai atas.

"Kak, sini."

"Ga mau."

"Coba lihat, ini lucu sekali," Syifa menghampiri Ibu.

Suara itu muncul dari binatang mungil yang berputar dalam mainannya.

"Hamster untuk Syifa, baru Bapak beli, Syifa tadi sudah tidur," ujar Bapak yang ikut terbangun.

Ketabrak ( flas fiction anak)

Dari tadi Hikmal terlihat serius memperhatikan sesuatu.

"Ya.. kok nabrak lagi, nabrak lagi..,"celetuk Hikmal.

"Seneng banget nabrak sih.. tuh kan jadinya ada yang mati..,"tambahnya.

"Asyik banget sih.. lagi lihat apaan," goda Kakak.

"Kak lihat sini deh," Hikmal menarik tangan kakak.

"Apaan?" Kakak menghampiri Hikmal.

"Kok temannya di tabrak sih?"

"Itu bukan nabrak, tapi salaman, kale."

"Salaman kok gitu, tuh..., jadi ada yang mati kan, mau di bawa kemana tuh yang udah mati," sambung Hikmal.

"Emang begitu.. kalau ada temannya yang mati pasti mereka bawa ke rumahnya," jelas Kakak.

"Hah.. Siapa yang mati ketabrak," Ibu yang asyik masak di dapur jadi ikut nimbrung

."Tuh...," Hikmal menunjuk iring-iringan semut yang diperhatikannya dari tadi.

Jumat, 21 Januari 2011

orang gila itu..


“Ada orang gila datang…,” terdengar teriakan teman-teman Dini dari depan sekolah mereka. Saat itu jam istirahat. Murid-murid SDN Suka Karya sedang bermain dihalaman Sekolah mereka.

Sesaat suasana menjadi gaduh . Murid-murid itu berhamburan lari menyelamatkan diri. Ada yang masuk kelas dan sebagian lagi lari keluar, melalui gerbang belakang sekolah.

Dini yang sedang menikmati makanan kecilnya, menjadi sangat ketakutan mendengar teriakan itu. Dini berlari keluar gerbang belakang sekolah mengikuti beberapa temannya yang lain.

Tak terasa sudah sangat jauh Dini berlari dari sekolahnya. Dini benar-benar takut jika orang gila itu menangkapnya. Menurut cerita yang pernah Dini dengar, orang gila itu suka menangkap anak sekolah seperti Dini. Hiii pasti akan diculik atau dijual pikir Dini. Dini terus berlari sekuat tenaganya.

Masih jelas dalam ingatan Dini. Beberapa waktu yang lalu, Dini dan teman-temannya bertemu dengan orang gila itu. Mereka di kejar, untung Dini dan teman-temannya segera lari menyelamatkan diri.

Tiba-tiba… bukkk. “Aduh,” jerit Dini. Murid kelas empat SD itu terjatuh. Kaki Dini tersandung batu besar , yang tadi tidak begitu diperhatikan Dini waktu lari. Tubuh Dini berguling-guling diatas tanah yang berbatu, Dini tidak bisa menahan badannya yang terus saja berguling, karena jalanan yang menurun. Sampai semuanya menjadi gelap. Dini pingsan.

“Nak,… bangun Nak”, suara seorang Bapak sambil menepuk-nepuk pipi Dini. Bapak itu lalu menggoyang-goyangkan badan Dini.

“Hhhh, dimana aku,” Dini mulai membuka matanya.

Samar-samar Dini melihat seraut wajah yang pernah dikenalnya.

Hah, ini kan orang gila yang tadi datang kesekolah bisik hati Dini.

“Ya Allah bantulah saya lari dari orang ini,” do’a Dini dalam hati.

Dini berusaha berdiri. Tapi usaha Dini gagal, Dini merasakan badannya masih lemah.

“Istirahatlah dulu Nak, badanmu masih lemah, tadi kamu pingsan dijalan, kebetulan Bapak lewat jalan itu. Karena itu kamu Bapak bawa kesini, kerumah Bapak,” ujar bapak yang menolong Dini.

“Tttapi jangan tangkap saya pak,” Dini ketakutan.

“Menangkap kamu,? Maksudmu apa Nak?,” ujar si Bapak bingung.

“Bapak yang suka berdiri didepan sekolah saya ‘kan,?” tanya Dini memberanikan diri.

“Kata teman-teman saya, Bapak suka menangkap anak kecil, lalu Bapak culik dan di jual, saya tidak mau di jual.”

“Oooh Bapak tahu sekarang, kalian semua menganggap Bapak penculik, ya,” Si Bapak pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Baiklah, sekarang Bapak beritahu kamu bahwa nama Bapak adalah Eko, Bapak memang sering memperhatikan kalian didepan sekolah, tapi bukan berarti Bapak akan menculik kalian,” jelas Pak Eko panjang lebar.

“Tapi kenapa baju Bapak tidak bersih dan rambut Bapak juga tidak tersisir dengan rapi,” tukas Dini.

“Ooo ternyata itu yang membuat kalian tidak mau Bapak dekati,”

“Pantas saja setiap kali Bapak panggil, kalian langsung lari. Sebenarnya bukan karena Bapak malas, tapi karena Bapak terlalu asyik dengan pekerjaan Bapak, sampai-sampai Bapak lupa untuk memperhatikankan penampilan Bapak.”

Pak Eko berdiri dan mengambil sebuah komik yang terletak diatas meja. Kemudian pak Eko memberikan komik itu kepada Dini, sembari menjelaskan kenapa dia sampai memperhatikan anak-anak disekolah Dini. Dengan ragu, Dini menerima komik yang disodorkan pak Eko.

Dini mulai membuka buku itu dan membacanya. Dihalaman pertama buku itu tertulis nama pengarangnya Eko Santoso.

“Ooo Bapak seorang komikus, ya” ujar Dini manggut-manggut.

”Ya begitulah, yang kamu baca itu adalah hasil dari pekerjaan Bapak yang sudah diterbitkan. Insyaallah Bapak segera menyelesaikan komik baru tentang kalian. Oh iya siapa namamu Nak?.”

“Nama saya Dini, Pak. Sebenarnya teman-teman saya bukan mengira Bapak sebagai penculik”, Dini menghentikan ucapannya. Dia tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya tentang anggapan teman-temannya kepada bapak Eko.

“Lalu kalian mengira Bapak sebagai apa, bukankah tadi Dini sendiri yang mengatakan kalau Bapak akan menculik dan menjual Dini?”, mata pak Eko penuh tanda tanya.

“Mmm itu hanya perkiraan saya saja Pak, tapi kalau menurut persangkaan teman-teman saya, Bapak seperti… “

“Seperti apa?”, kejar pak Eko sambil tersenyum, pak Eko sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Dini.

“Seperti… orang gila, ha..ha..ha”, mereka berduapun tertawa.

Hilang sudah semua pegal dan rasa sakit yang dirasakan Dini sewaktu jatuh tadi. Ternyata pak Eko orangnya sangat baik dan pandai bercerita. Tak terasa sudah beberapa jam berlalu.

“Pasti sekolahmu sudah bubar. Sekarang kamu Bapak antar pulang ya, buku ini Bapak berikan untuk Dini, tapi dengan satu syarat, Dini harus rajin belajar dan memperkenalkan Bapak dengan teman-teman Dini, bagaimana?”.

“Oke, terima kasih ya Pak, tapi saya masih boleh main kesini kan?”

“Boleh, ajak juga teman-temanmu yang lain, Ayo kita kerumahmu”.

Dini pulang kerumah dengan senyum dibibirnya. “Besok akan kuceritakan pengalaman seru ini kepada teman-temanku, pasti mereka tidak akan percaya,” bisik hati Dini.

Kamis, 20 Januari 2011

KEKALAHAN KOBO



“Saya tidak mau ikut adu kerbau itu lagi Pak, saya benar-benar sudah sangat lelah dengan pertandingan itu” ujar Kobo pada suatu pagi kepada majikannya yang bernama Pak Maman.

“Aku tidak mau tahu!, kamu harus ikut adu kerbau itu, kalau kamu tidak mengikutinya maka aku akan menyembelihmu dan kamu akan menjadi santapan semua penduduk desa ini !” teriak Pak Maman sambil menyodorkan rumput yang sudah dicampur dengan obat yang bias membuat Kobo tetap kuat.

Kobo pun tertunduk sedih. Dengan berat hati dimakannya makanan yang sudah disediakan majikannya itu. Setiap tahun dikampung tempat tinggal Kobo memang selalu diadakan pertandingan adu kerbau.

Dulu sewaktu masih kecil, Kobo memang ingin ikut pertandingan itu, tapi setelah beberapa kali Kobo mengikuti pertandingan itu, ternyata pertandingan itu membuat Kobo menjadi cepat lelah, apalagi sehabis bertanding semua badan Kobo terasa sakit.

Setiap kali bertanding pastilah kepala dan tanduk Kobo akan saling berbenturan sangat keras dengan kepala dan tanduk lawannya. Kadang-kadang lawan Kobo menyeruduk badan Kobo, begitu juga sebaliknya.

Setelah pertandingan selesai yang tersisi adalah rasa sakit yang tak tertahankan pada kepala dan semua badan Kobo. Makanya Kobo tidak mau ikut bertanding lagi.

***

Saat pertandingan pun datang. Pak Maman yang sudah memberikan ramuan kuat untuk Kobo memaksa Kobo untuk keluar dari kandangnya.

“Aku tidak mau ikut, aku benar-benar sangat lelah” tolak Kobo.

“Kobo ! Aku peringatkan sekali lagi, kamu harus ikut pertandingan itu, kalau tidak kamu akan merasakan akibatnya !” bentak pak Maman sambil terus menyeret Kobo.

Dengan langkah terpaksa Kobo mengikuti pak Maman yang menyeretnya dengan kasar.

“Perhatian! Perhatian! kepada semua penonton kami ucapkan selamat datang. Acara adu kerbau akan segera kita mulai. Sang juara Kobo akan melawan penantangnya Gobi…!” pembawa acara memulai acara itu.

“Ayo Kobo, ! Tunjukkan kepada kami kehebatanmu !” teriak sebagian penonton dari atas tempat duduk mereka.

“Kobo sepertinya kamu takut bertanding denganku ya “ Gobi mengejek Kobo sewaktu Gobi memperhatikan Kobo yang tidak bersemangat.

“Gobi, untuk sekarang aku tidak ingin ikut perlombaan ini. Karena setiap habis lomba badanku sakit semua” jelas Kobo.

“Alah, itu cuma alasanmu saja kan, agar kamu tidak jadi bertanding denganku” ejek Gobi.

“Ini semua benar Gobi, kalau kamu tidak percaya mari kita buktikan, setelah pertandingan ini, pasti semua badanmu akan sakit untuk waktu yang lama”

“Aku tidak percaya sebelum aku membuktikannya”

“Baiklah, jika ternyata apa yang aku katakana itu benar, maka kamu harus mengatakan kepada majikanmu kalau sebaiknya adu kerbau ini ditiadakan saja, karena akan membuat kita sakit, bagaimana?” tantang Kobo.

“Baik, itu akan aku lakukan jika aku berhasil mengalahkanmu,” Gobi mengajukan sarat. Dalam hati Gobi, jika kali ini dia menang pasti untuk selanjutnya dia yang akan ditantang untuk lomba adu kerbau oleh para pemilik kerbau lain. Dengan demikian Kobo tidak akan pernah lagi menjadi kerbau aduan.

Karena setiap kerbau yang menang selanjutnya akan ditantang oleh kerbau lain yang lebih kuat. Sedangkan kerbau yang kalah tidak akan diijinkan untuk ikut lomba lagi.

Benar juga apa yang dikatakan Gobi, jika aku kalah, pasti aku tidak akan ikut pertandingan ini lagi, bisik Kobo dalam hati. Apalagi jika Gobi merasakan bagaimana sakitnya setelah pertandingan itu, pasti Gobi juga tidak akan mau ikut bertanding lagi. “Baiklah, aku setuju dengan usulanmu” Jawab Kobo mantap.

“Satu…, dua…, tiga…, mulai “ sang juri memberi aba-aba bahwa pertandingan boleh dimulai kepada kedua kerbau itu.

“TOK… BUGH… NGUUUUH… Kedua kerbau itu pun saling beradu kekuatan, Kobo berusaha menahan serangan Gobi, karena Kobo ingin Gobi menang setelah semua badan mereka terasa sakit, dengan demikian Gobi pasti akan memenuhi janjinya. “Ayo Kobo…!” Terdengar teriakan pendukung Kobo.

“Ayo Gobi..!” Teriakan penonton menyemangati mereka berdua.

Beberapa menit berlalu kedua kerbau itu terus melakukan aksi mereka, sampai Kobo merasa sudah tidak kuat, dan Kobo juga melihat Gobi sudah kepayahan, Kobo pun memutuskan untuk berlari keluar dari arena pertandingan. Kobo berlari menuju kerumunan penonton yang sedang memperhatikan pertandingan itu.

Beberapa orang penonton berteriak dan berlari menghindari serudukan Kobo. Karena Kobo sudah berlari keluar arena pertandingan secara tidak langsung Kobo sudah berarti kalah.

“Pemenang adu kerbau tahun ini, adalah Gobiii” juri menepuk-nepuk punggung Gobi. Penonton yang menjagokan Gobi pun berteriak senang. Sementara penonton yang menjagokan Kobo terlihat sangat kecewa.

Sorak-sorai kemenangan terdengar diseantaro arena adu kerbau itu. Gobi yang merasakan kepalanya sangat sakit, merebahkan badannya di rumput lapangan.

“Hebat Gobi!, tahun depan kita akan bertanding kembali, “ ujar majikan Gobi sambil menepuk-nepuk punggung Gobi.

“Ma’af tuan, untuk tahun depan saya tidak mau bertanding lagi, karena semua badan dan tulang-tulang saya terasa sakit sekali, seolah-olah mau remuk”.

“Apa katamu ! Tidak bias, kamu harus bertanding lagi tahun depan, karena pertandingan ini sudah menjadi adat dan kebiasaan kita setiap tahun !” Teriak Majikan Gobi sambil berlalu meninggalkan Gobi yang sedang kesakitan.

“Bagaimana Gobi, kamu tidak berhasil membujuk majikanmu ya,” Kobo menghampiri Gobi.

“Iya, padahal aku sudah mengatakan alasanku,” Gobi tertunduk sedih. Sakit yang luar biasa menjalar diseluruh tubuhnya.

“Begini saja, kita minta kepada majikan kita, bahwa adu kerbau tahun depan bukan adu fisik secara langsung seperti ini, tapi , adu kekuatan dengan membajak sawah “ usul Kobo.

“Lalu bagaimana menentukan siapa yang akan menjadi pemenangnya ?”

“Siapa yang berhasil membajak sawah dengan cepat itulah yang akan menjadi pemenangnya”

“Benar juga usulanmu Kobo, dengan demikian, kita dapat berlomba sekaligus mengerjakan tugas kita sehari-hari,” Gobi tersenyum.

“Kalau begitu aku akan memberitahu majikanku dulu agar acara pertandingan adu kerbau tahun depan seperti yang telah kita sepakati, mudah-mudahan saja mereka mengerti dan mau menerima saran kita”

Kedua kerbau itu pun berlalu menuju kandang mereka masing-masing. Hanya do’a yang bisa mereka panjatkan kepada Tuhan, agar keinginan mereka dapat dikabulkan oleh majikan mereka. Semoga tahun depan rasa sakit seperti ini tidak akan mereka alami lagi.